Surat Terbuka Kepada Umat Akhir Jaman
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan semesta alam, salam dan salawat kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw beserta para ahli bait dan sahabat Beliau. Amma ba’du.
Dari khudzaifah bin Yaman berkata, Rasulullah bersabda, “Apabila telah lewat 1240 tahun, Allah membangkitkan (imam) Mahdi” (An-Najmuts Tsaqib jilid II).
Wahai para pemimpin umat! Apa makna dari hadits ini? Bukankah berarti telah muncul di jaman ini Sang Mahdi? Dimanakah Beliau berada dan tersembunyi? Kenapa Allah Swt tidak memperkenalkan kepada kita semua? Apakah Beliau yang dijanjikan muncul melayang-layang turun dari langit?
Wahai saudaraku yang telah mendapatkan hidayah dua kalimat Syahadat. Kepada siapa anda semua ber-ma’mum? Apa jawaban anda semua tatkala kita berpulang kepada-Nya dan sewaktu di alam kubur mendapat interogasi pertanyaan Malaikat, “siapa Imam-mu?”. Bukankah dengan telah turunnya Sang Mahdi seperti yang telah disabdakan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, berarti pada abad 13-14 hijriyah telah turun Imam terpilih tersebut? Dan Beliau-lah imam kita?
Hadits tentang kemunculan Al-Mahdi sudah sangat masyhur dan mutawatir. Beliau berasal dari Ahlu Bait dan berkuasa selama tujuh tahun, memenuhi dunia dengan keadilan dan sesungguhnya Isa juga keluar dan membantunya dalam membunuh Dajjal. Ia menjadi Imam umat ini dan Isa ikut menjadi makmum di belakangnya. (Ibnu Qayyim dalam Al Manaar Al Muniif)
1. “berasal dari ahlu bait”
Siapakah ahlu bait? Menurut pengertian umum adalah nasab lahiriah seseorang yang apabila diurutkan keatas, akan tersambung garis nasabnya dengan Nabi Muhammad Saw. Menurut nasab bathin, adalah seseorang yang mewarisi Nur Keagungan Beliau walaupun tidak ada hubungan darah / ikatan kekeluargaan dengan Beliau. Ahlul bait yang dikenal adalah Ahlul Kisa, yaitu Siti Fatimah, Sayyidina Ali, Hasan-Husain. Apakah ada sebagian dari keturunan lahiriah / bernasab lahir dari Nabi Muhammad yang tidak mewarisi Nur Keagungan Beliau? “Saraatun saraa nuurun nubuwwati fii asaariiri ghurarihimul bahiyyah” Nur Kenabian Muhammad selalu berpindah dan memancar dari pelipis ke pelipis nenek moyangnya dengan cerlang cemerlang. Nur Kenabian Muhammad adalah Nur Muhammad. Nur dari “Alam Wahidiyyat” sebagai sifat kemakhlukan berupa kesatuan cahaya, yang darinya asal dari segala wujud alam semesta. Nur yang menjadikan Nabi Muhammad sebagai “Sayyidin Awwalin Wal Akhirin”. Apakah perjalanan Nur Muhammad ini pernah kita tafakuri? Dimanakah “manusia Muhammad” yang hidup di akhir jaman ini? Yang menerima anugerah Nur Muhammad di akhir jaman dimana Nur tersebut keagungannya dinamakan Nur Mahdi? Inilah Al-Mahdi. Imam umat akhir jaman. Tersembunyi dibalik kesederhanaan pakaian dunia. Disembunyikan dan tersamarkan, membaur dengan kehidupan umat. Tersembunyi dari hierarki para Wali. Menjadi cermin Allah bagi titik pengawasan alam semesta. Menerima limpahan rahasia-rahasia Ilahi. Mengetahui rahasia takdir dan dilingkari hakikat Ar-Ruhaniyyah.
2. “berkuasa selama tujuh tahun”
Apa makna perlambang kurun waktu tujuh tahun? Nabi Muhammad Saw, didalam membina umat, seringkali memakai bahasa perlambang. Apabila kita menerima perlambang yang disabdakan Beliau dengan tidak memahami makna yang dimaksud, maka tidak akan mengerti apa yang Beliau maksudkan. Tujuh tahun bukanlah menurut ukuran waktu dunia ini Nur Muhammad yang turun pada akhir jaman disebut dengan Nur Mahdi. Tujuh periode turunnya Nur Keagungan inilah yang dimaksud dengan waktu tujuh tahun. Sekarang sudah berapa periode-kah gerangan? Wallahu Ta’ala a’lam.
3. “memenuhi dunia dengan keadilan”
Keadilan seperti apa? Al-Adl adalah salah satu asma-Nya. Pengejawantahan Al-Haq terwujud dalam perilaku seorang manusia paripurna. Padahal kita melihat di alam kasat mata bahwa banyak terjadi praktik ketidakadilan di masyarakat/umat. Lantas bagaimana ini? Marilah kita mentafakkuri terjadinya “ketidakadilan” yang ada. Bukankah justru inilah “keadilan” sebenarnya? Terjadinya penindasan terhadap umat adalah juga akibat dari kesalahan umat sendiri yang tidak memposisikan sendiri sebagai hamba Allah. Allah menurunkan penguasa yang tiran, bukankah sebagai peringatan kepada umat atas kesalahan-kesalahan mereka sendiri? Jangan-jangan makna keadilan diterjemahkan sebagai sesuatu yang menguntungkan berupa kenikmatan-kenikmatan duniawiyah belaka. Sementara kekurangan harta, kelaliman penguasa, kejahatan yang merajalela adalah “bukan keadilan”. Masya Allah! Bukankah adil namanya kalau kita ditimpa kemalangan dengan tujuan untuk menghapuskan dosa-dosa kita? Bukankah adil namanya kalau suatu kaum diberikan seorang penguasa tiran akibat kelalaian kaum tersebut dalam beribadah kepada Sang Khalik-nya?
4. “Isa keluar dan membantunya dalam membunuh Dajjal”
Persepsi awam yang ada di diri kita, seringkali menggambarkan kalimat ini dengan wujud peperangan besar berupa perang fisik. Ini adalah akibat kita terbiasa melihat tayangan kekerasan di film dan televisi. Padahal siapakah Isa? Siapakah Dajjal? Kalau Dajjal digambarkan bermata satu, dan keningnya bertuliskan kaf, fa, ra. Sebelum sang Dajjal keluar, bala tentaranya telah lama meracuni kehidupan umat akhir jaman. Mata sebelah kiri cemerlang melihat dunia, sementara mata kanan buta dalam melihat kehidupan akhirat. Kesesatan yang ditimbulkannya akibat kecintaan kepada dunia dengan melalaikan akhirat, telah memakan korban atas umat. Ruhullah Isa telah keluar. “Nur Keagungan Nabi Isa” telah memancar di kalangan para pengikut Sang Imam. Nur Isa berwajah kasih sayang, bahu membahu dengan Sang Imam untuk melawan sifat-sifat Dajjal yang merajalela.
5. “Ia menjadi Imam umat ini”
Sang Mahdi benar-benar menjadi “Imam secara lahir-bathin” bagi yang telah mengenal tanda-tanda kemunculannya dan “Imam secara bathin” bagi umat yang belum sempat mengenalnya. Bagaikan pancaran sinar matahari yang tertutup oleh mendung. Cahayanya tetap dapat dimanfaatkan oleh orang yang berada dibawahnya walaupun tidak melihat sumber cahayanya. Perbedaan dengan umat yang diberi karunia langsung untuk mengenal Beliau adalah ibarat orang yang berada di terik matahari dengan orang yang berada dibawah naungan mendung. Kedudukan Beliau benar-benar mengejawantahkan seorang “Khalifah Rasulullah”.
“Bagaimana mungkin akan binasa, suatu umat yang aku berada di awalnya dan Al-Masih berada di akhirnya” (Ibnu Majah, Madarikut-Tanzil). “Tidak akan binasa umat yang saya berada di awalnya. Isa bin Maryam diakhirnya dan (imam) Mahdi berada ditengahnya” (Sunan An-Nasai, Faidlul Qadir. Nuzulu Isa ibni Maryam Akhir Az-Zaman).
“Dan apabila Imam Mahdi keluar, maka tidak ada baginya musuh yang terang-terangan kecuali para ulama saja” (Ibn Arabi, Futuhat Makkiyah jilid III).
6. “Isa ikut menjadi makmum di belakangnya”
Nur Keagungan Nabi Isa menyatu dengan Nur Keagungan Al-Mahdi. Pada hakikatnya semuanya adalah berasal dari Nur Muhammad. “Walal Mahdiyyu illa ’isabnu maryam” Dan Mahdi tidak lain adalah Isa bin Maryam (HR. Ibnu Majah 4039)
Alhamdulillah. Maha Suci Allah yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga uraian diatas mampu menyadarkan umat, bahwa kita adalah umat akhir jaman. Bahwa kita dipimpin oleh Imam terpilih yang telah dijanjikan Allah & Rasulullah.
Wassalam…




![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://yasiyafa.org/wp-content/uploads/valid-rss.png)
