May
11

Amal Saleh di Bulan Sya’ban

Dengan mengetahui tata cara berdoa, kita dapat memintakan syafaat dan pengampunan kepada ahli keluarga kita yang telah berpulang lebih dahulu daripada kita.Bukankah amalan orang yang meninggal terputus, terkecuali doa anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah? Doa kita sebagai ahli warisnya, sangatlah dinantikan oleh mereka yang telah mendahului kita.

Kita tidak tahu apakah orang tua, kakek-nenek, sanak saudara dan leluhur kita termasuk orang yang selamat di alam barzakh. Bagaimana bila posisi kita menjadi seperti mereka sekarang?

tafakuri lebih lanjut…

May
11

15 Sya’ban

Pada malam 15 Sya’ban, “buku” catatan amal yang merekam semua amalan manusia, baik yang buruk atau baik diangkat/diambil untuk digantikan dengan yang baru. Dengan melakukan amalan ibadah seperti diatas, kita mengharapkan agar “rekap catatan amal” selama setahun silam dapat terisi dengan amalan baik, dan agar dapat diputihkan segala kekurangan dan dosa kita selama setahun silam. Kita bertaubat pada malam yang mulia tersebut dengan sebenar taubat ( taubat nasuha ). Juga dengan mengisi beribadah pada malam tersebut, kita berharap agar “buku catatan amal” yang baru pada lembar pertamanya terisi dengan hal-hal yang baik agar dapat berkelanjutan pada hari-hari berikutnya.

Inilah kenapa kita disunnahkan untuk memperbanyak membaca Istighfar. Fadlilah Istighfar sangatlah banyak. Selain untuk meminta ampunan Tuhan, kita juga meminta agar dibukakan pintu-pintu rejeki lahir dan rejeki bathin. Selain itu untuk “kalangan khusus”, adalah untuk meminta agar dibukakan hijab yang menyelubungi diri manusia didalam penghambaannya kepada Allah Ta’ala.

Pada malam Nisfu Sya’ban para Malaikat yang bertugas mengambil dan mengganti buku catatan amal setiap manusia, “hilir mudik dari bumi ke langit”. Mereka melakukan kesibukan itu seperti layaknya manusia yang sedang merayakan hari raya lebaran.

Apakah kita menyambut mereka layaknya kita mendapat kunjungan tamu sesama manusia ataukah kita mampu menghormati dan memuliakan mereka?

Subhanallah! Marilah kita mengajak hati kita, untuk bertafakur merenungkan kebesaran Ilahi.

May
10

Syafaat

Nabi Muhammad Saw, pada malam tanggal 13, 14 dan 15 Sya’ban bermunajat kepada Allah Swt, memprihatinkan nasib umat Beliau agar diberikan pengampunan pada hari kiamat. Beliau melakukannya pada malam-malam tersebut ziarah ke makam Ibundanya, Siti Aminah. Keprihatinan Beliau karena keluhuran akhlak dan melihat nasib umat Islam yang kemudian. Beliau didalam melakukan munajat tersebut sampai menangis memikirkan umat.

Pada malam yang pertama ( malam tanggal 13 Sya’ban ), Beliau mendapat jaminan dari Allah Swt melalui Malaikat Jibril, bahwa Beliau mendapatkan hak untuk mensyafa’ati umat sebanyak 72.000 umat. Karena masih dirasakan kurang, mengingat jumlah umat Beliau adalah banyak sekali, maka pada malam kedua ( malam tanggal 14 Sya’ban ) Beliau melakukan munajat kembali untuk meminta tambahan “kuota” syafaat. Pada malam kedua ini “jatah kuota” ditambah menjadi sebanyak 2 kalinya sehingga menjadi 144.000 umat. Akhirnya pada malam ketiga ( malam tanggal 15 Sya’ban ) “kuota” ditambah sehingga menjadi ………. umat. Kenapa ………?

Sengaja kami samarkan angka sebenarnya untuk kepentingan kita juga. Makna yang lebih penting adalah agar kita mau memikirkan alias bertafakkur di dalam hati kita masing-masing bahwa untuk memperjuangkan umatnya.

Nabi Muhammad bermunajat sampai menangis sedih meminta syafaat untuk umat. Kenapa kita yang “ditangisi” oleh Beliau tidak mau bermunajat di malam-malam tersebut? Kenapa kita mengharapkan syafaat Beliau, tetapi tidak mau ikut merasakan kesedihan sebagaimana yang Beliau rasakan?

Marilah kita bermunajat kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya sebenar-benar taubat (taubatan nasuha), mendekat kepada-Nya, mengharapkan ridha-Nya, meminta syafaat Nabi Saw, memintakan ampunan dan syafaat kepada para ahli kubur kita, dan meminta agar kita menjadi orang yang selamat di dalam meniti “siroth al-mustaqim”. Insya Allah kita termasuk umat yang mendapat taufik dan hidayah-Nya. Amin.

May
09

Singasana Sultan

Alkisah ada seorang “tua” sebut saja namanya Bahlul, datang ke istana Sultan Harun Ar Rasyid. Kebetulan pada saat itu Sultan sedang bepergian melawat keluar istana. Begitu melihat kursi singasana kosong, dia ingin mencoba duduk di atasnya. Karuan saja pengawal mencak-mencak dan menganggap orang ini “gila” alias “kurang waras” karena berani-beraninya duduk di singasana kehormatan sultan, kemudian menangkap serta menghajarnya dengan pukulan bertubi-tubi.

Tentu saja dihujani dengan pukulan para pengawal, Bahlul merasa kesakitan dan akhirnya menangis menahan pedih dan sakitnya dipukul para pengawal. Untung tidak berapa lama Sultan kembali dari lawatannya. Begitu melihat ada seseorang yang dipukuli para pengawalnya, Sultan segera memerintahkan untuk menghentikannya. “Berhenti!” kata Sultan. ” Kenapa kalian pukuli orang ini, tidakkah kalian melihat dia sudah tidak berdaya, dan tidakkah kalian merasa kasihan?”. Lantas para pengawal menghentikan tindakannya seraya melapor, ” Ampun Baginda!, orang ini telah berbuat kurang ajar dengan duduk diatas singasana Baginda. Karena itu kami menghukumnya dengan pukulan agar dia jera dan tidak mengulanginya lagi nanti”.

“Baiklah…!” ujar Sultan bijak. ” Benarkah apa yang dikatakan para pengawalku tadi, wahai orang tua?” kata Sultan kepada Bahlul. Setelah beberapa jenak Bahlul terdiam, tiba-tiba saja begitu mendengar perkataan Sultan, Bahlul kembali menangis… bahkan lebih keras dibandingkan sebelumnya. Karuan saja Sultan dan para pengawalnya terheran-heran. “Hai, mengapakah kamu menangis lagi? bukankah para pengawalku sudah berhenti memukulimu?” kata Sultan.

“Ampun Baginda Sultan!” Bahlul akhirnya berkata, ” kalau tadi hamba menangis karena dipukuli pengawal paduka, itu adalah karena tadi hamba merasakan sakitnya pukulan yang hamba terima akibat mencoba duduk sejenak di atas singasana Baginda…”.

” Tetapi hamba barusan membayangkan, bagaimana sakitnya pukulan yang akan Baginda rasakan kelak! Hamba yang baru sebentar duduk di singasana saja, sakitnya bukan alang kepalang, apalagi Baginda yang sudah puluhan tahun duduk di atasnya…”.

top
© 2007 Deziner Folio. All Rights Reserved. XHTML Theme by: Dezinerfolio

Religion Top Blogs Jogja Top Sites Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Powered by FeedBurner [Valid RSS] Find broken links on your website for free with LinkTiger.com

eXTReMe Tracker