Apr
27

Gerhana Bulan

Bulan adalah perlambang mata bathin/hati. Sifatnya sejuk dan tidak panas. Ini adalah pengejawantahan fitrah hati, yang cenderung untuk menuju ke alam ukhrowi. Kebalikannya, matahari adalah perlambang mata lahir/akal. Sifatnya panas dan cenderung menuju ke alam dunia/keduniaan.

Bila terjadi gerhana, bayangan bumi/dunia akan menutupi permukaan bulan/hati sehingga sebagian/seluruh permukaannya gelap. Keadaan demikian ini ditangkap dengan penafsiran bahwa akal/mata lahir sinarnya membuat hati dengan mata bathinnya tertutup oleh keduniaan. Hal ini berakibat pada gelapnya mata bathin kebanyakan manusia, karena keduniaan telah menguasai diri akibat akal terbelenggu hawa nafsunya.

Sisi penafsiran yang lain adalah bahwa terjadinya penyatuan dua buah mata lahir dan bathin ini dalam bentuk gerhana, akan menghasilkan keadaan yang luar biasa. Yaitu akal/mata lahir yang berpadu dengan hati/mata bathin. Artinya setiap perwujudan hasil pemikiran akal dilandasi dengan kehalusan mata hati. Kesejukan akan mengejawantah dalam setiap hasil pemikiran akal yang seharusnya panas.

Dalam penafsiran jawa, terjadinya gerhana bulan di bulan Ruwah/Sya’ban merupakan pertanda akan terjadinya banyak orang yang berebutan sesuatu hal/benda/kepentingan. “Berebutan” mempunyai dua sisi keping mata uang. Disatu sisi, bila perebutan ini dalam hal keduniaan maka akan mendapat murka Allah, disisi lain mendapat ridha apabila perebutan dalam hal amal kebajikan.

Tinggallah kita mencoba bertafakur, termasuk didalam sisi manakah diri kita berada? Apakah sisi yang mendapat murka-Nya ataukah mendapat ridha-Nya.

Sebagaimana kutipan QS. Al-Maidah 48,
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

Belum ada komentar

Buat komentar untuk bertafakur...

Belum ada yang mentafakuri tulisan ini... bagaimana dengan anda?

Comments RSS Feed   TrackBack URL

Berikan komentar

top
© 2007 Deziner Folio. All Rights Reserved. XHTML Theme by: Dezinerfolio

Religion Top Blogs Jogja Top Sites Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Powered by FeedBurner [Valid RSS] Find broken links on your website for free with LinkTiger.com

eXTReMe Tracker