Mar
17

Teori Evolusi & Pandangan Kasyaf

Setelah membaca dan menyimak beberapa sajian yang ada di tetangga sebelah tentang pembahasan teori evolusi beserta semua sanggahan dan dukungannya, tafakuran kali ini mungkin merupakan bahasan ini sudah cukup lama, tetapi bukan berarti tema-nya menjadi basi. Seperti kita ketahui, bahwa setiap pencarian/penelitian ilmiah tujuannya hanyalah sekedar untuk memuaskan akal manusia. Dibandingkan dengan sebuah pencarian spiritual, dimana tujuan yang dikehendaki adalah untuk menemukan “asal mula kejadian”.

Bagi kalangan beriman (Islam) bahwa teori yang menyimpulkan bahwa spesies yang bernama manusia mengalami proses evolusi, tentu sangat bertentangan dengan Al-Quran dan Al-Hadits. Landasan dalil dan hujah sudah cukup banyak kita baca dan pelajari. Nabi Adam dan Siti Hawa adalah dua sosok manusia sempurna yang sangat tampan dan cantik. Bagaimana bisa dikatakan sebagai moyang manusia yang kemudian ber-evolusi? Naudzubillah min dzalik!

Disebutkan pula bahwa dalam salah satu mata rantai evolusi tersebut terdapat “missing link” / ”mata rantai yang terputus”. Apakah itu? Keimanan! Karena semua ini bisa dijawab dengan iman. Seandainya Darwin termasuk seorang cerdas yang beriman kepada-Nya, pasti tidak akan muncul teori seperti itu. Keimanan yang bagaimana sih? Rata-rata muslim (orang Islam) mengaku beriman. Tetapi kenapa ada “istilah” orang mukmin.Artinya tidak setiap orang muslim adalah orang mukmin.Lantas, bagaimanakah keimanan seorang mukmin itu?

Tetapi kami maklum dengan hal itu karena keterbatasan akal manusia yang tidak sampai pada rahasia ciptaan Tuhan yang luar biasa ini. Apakah kalangan ilmuwan ataupun kalangan alim-ulama pada umumnya mampu memberikan jawaban yang memuaskan? Tidak! Kenapa? Padahal secara keimanan sesuai kadar yang dimiliki, kesalahan teori itu jelas sekali…!, tetapi tidak bisa mereka buktikan secara meyakinkan. Jawabannya adalah karena tingkat keimanan kebanyakan manusia jaman sekarang sangat terbatas. Betapa sangat banyak “alim-ulama dunia”, secara ilmu syariat mereka menguasai berbagai macam kitab beserta perangkat pendukungnya, tetapi perilaku mereka  nuwun sewu tidak mencerminkan ilmu yang mereka kuasai. Tentu saja untuk menjelaskan masalah seperti ini mereka tidak akan mampu karena mereka tidak sampai kepada tingkatan “alim-ulama akhirat”.

Pada tataran seorang “mukmin sejati”, mereka dikaruniai pandangan mata bathin/kasyaf. Dengan kemampuannya mereka bisa membaca hati dan pikiran orang yang berada di hadapan mereka. Bagi para ahlul kasyaf, kedudukan mereka yang sangat tinggi dimata Tuhan, akhirnya memungkinkan terjadinya keistimewaan yang demikian. Tetapi bagi mereka semua itu (mendapatkan berbagai keistimewaan) bukanlah tujuan akhir. Tujuan mereka semua adalah “Perjumpaan dengan Tuhan”.

Penulis mengenal secara pribadi beberapa orang (sekarang masih hidup/bukan kalangan arif billah jaman dahulu) yang telah melakukan “wisata ruhani” menembus dimensi ruang dan waktu. Ada yang melakukan “perjalanan ruhani” selama 100 hari ke tahun 3.000 th SM!. Beliau akhirnya sempat menyaksikan pembuatan piramid, candi, dlsb. Apakah akal kita bisa menerimanya? Ataukah lantas anda melemparkan argumen yang menentang bahkan menuduh yang bukan2? Terserah anda!!… Bagaimana dengan “perjalanan” Syaikh Abu Yazid Al-Busthami, Syaikh Maulana Ishak, dan banyak lagi orang-orang suci lainnya? Apakah anda menganggap sebagai bahan lelucon belaka?

Dengan pandangan kasyaf tersebut, semua pertentangan yang ada menjadi tidak berarti. Dalam maqam ini, “iman adalah melihat”. Rukun Iman, bagi “manusia awam” adalah keharusan seorang muslim untuk mempercayai adanya Tuhan, Malaikat, Nabi, Kitabullah, Hari Kiamat & Qadla-Qadar. Tetapi kenapa kami sebutkan bahwa di kalangan “manusia khusus” adalah melihat?

Untuk menjaga agar pemahaman anda tidak melenceng dan menimbulkan kesalah-pahaman, “melihat” disini kami maksudkan bukan melihat dengan mata lahir, seperti selayaknya kita melihat benda/materi, tetapi melihat dengan pandangan mata bathin yang sudah terasah dan dihiasi dengan Nur Keimanan.

Mereka dianugerahi bisa melihat para Nabi, Malaikat bukanlah dialam kasat mata ini, tetapi di alam ruhani. Bukankah Allah Ta’ala menciptakan belasan ribu alam? Apakah kita hanya menyadari alam dunia ini saja? Bagaimana dengan alam barzakh, alam akhirat, alam mimpi, alam kesenangan, alam kesedihan, alam lamunan, alam khayali, dan banyak lagi alam sejenisnya? Mengapa seseorang yang sedang tenggelam dalam alam lamunannya, kemudian hendak menyeberang jalan dan kebetulan nyaris ketabrak kendaraan misalnya. Bisakah anda berteriak mengingatkannya agar menepi kalau ybs masih berada dalam alam tersebut?

Mari kita kembali sejenak mengupas sisi keimanan kita. Coba tanyakan kepada hati nurani kita masing-masing. Inginkah kita mendapatkan keistimewaan anugerah Tuhan seperti yang diperoleh orang-orang pilihan tersebut? Bagaimanakah caranya? Apakah di jaman serba modern ini masih ada orang-orang yang mempunyai “karamah”? Kalau ada bagaimana kita bisa mengenalnya dengan harapan bisa meniru dan meneladani mereka?

Dengan pandangan kasyaf, telah diperlihatkan bahwa Adam sebenarnya terdiri dari 10.000. Nabi Adam adalah yang ke 10.000 alias yang terakhir. Setiap “Adam” berdurasi selama lebih kurang 10.000 tahun. Jadi Nabi Adam kita sebenarnya bukanlah makhluk pertama yang diciptakan untuk menjadi “khalifah Allah” di muka bumi ini. Apakah 9.999 Adam sebelumnya adalah dari jenis manusia? Kenapa Malaikat mengajukan pertanyaan kepada Allah ketika Nabi Adam hendak diciptakan, dengan mengacu kepada kerusakan yang ditimbulkan oleh penghuni bumi sebelumnya?

Tetapi ingat! Ini adalah pencarian spiritual… kita hendak mengetahui dan mengenal asal-usul permulaan kejadian yaitu Allah Ta’ala. Bukanlah hanya sekedar untuk memuaskan akal saja. Jangan sampai kita terjebak kedalam tipu daya iblis untuk menggelincirkan kita dari jalan-Nya. Apakah hikmah dibalik kami menyampaikan wacana ini bagi anda semua? Apakah untuk popularitas kami? Apakah kekayaan materi yang kami cari? Kami berlindung kepada Allah dari semua keinginan rendah seperti itu. Semua ini semata hanyalah untuk mengenalkan kepada anda semua hakikat kebenaran yang bisa kita telaah dan telusuri sendiri dengan jalan keimanan. Bagi kalangan khusus tadi, mungkin masih terdapat keterbatasan dalam hal penyampaian kepada umat. Tetapi bagi yang sempat mengenalnya akan merasakan sesuatu yang menghentak didalam dada, untuk sesegera mungkin menyampaikan kepada umat.

“Waamma bi ni’mati robbika fahaddits” - terhadap nikmat Tuhanmu kabarkanlah! -

Belum ada komentar

Buat komentar untuk bertafakur...

Belum ada yang mentafakuri tulisan ini... bagaimana dengan anda?

Comments RSS Feed   TrackBack URL

Berikan komentar

top
© 2007 Deziner Folio. All Rights Reserved. XHTML Theme by: Dezinerfolio

Religion Top Blogs Jogja Top Sites Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Powered by FeedBurner [Valid RSS] Find broken links on your website for free with LinkTiger.com

eXTReMe Tracker