Syekh Muhammad An-Niffari
Al Imam Al Arif Kutbu Zamanihi Muhammad bin Abdul Jabbar bin Al Hasan An-Niffari. Beliau hidup di abad ke 4 hijriah, di sebuah negeri bernama Naffar-Irak. Kegemaran Beliau adalah menyepi-nyepi dan selalu merantau dari satu tempat ke tempat yang lain. Kebanyakan waktunya dihabiskan untuk beribadat dan merenung bertafakur.
Sedikit sekali dokumentasi tentang Beliau yang bisa kita dapatkan. Satu-satunya karya Beliau yang berhasil diabadikan adalah “Al Mawaqif wal Mukhotobat” (Yang ditegakkan berdiri dan diajak bertutur kata). Risalah yang ditinggalkan Sang Imam ini tiada bernilai isi kandungannya. Pengetahuan-pengetahuan agama yang tidak terukur nilai dan ketinggiannya. Beliau menyelami hal-hal ter-rahasia dalam wujud, roh dan jasad. Kitab tersebut adalah kumpulan naskah-naskah atau lembaran-lembaran catatan yang ditinggalkan Beliau dan berhasil dihimpun oleh para pengikut Beliau.
Kalimat “aku” direntang, ilmu “tauhid” diurai, “Islam dan Al Quran” direntang dan diurai dengan bahasa khas sufi. Penuh perlambang dan penuh kesamaran yang sangat mendalam. Bermutu, kaya hakikat dan ibarat yang hidup dan berkesan nyata dalam akal dan budi serta mantap dalam lubuk hati.
Kitab karya Beliau ini dikhususkan hanya kepada kalangan “khususnya-khusus”, yang menggemari tafakur dan renungan hati… yang telah hidup bersama huruf dan untuk mereka yang mendampingi dan mengawani arti makna. Sekali-kali Kitab ini bukanlah hanya untuk para penggemar baca, yang suka akan membaca sekedar kesenangan dan hiburan yang bersifat sementara atau sepintas lalu.
Ada beberapa pengalaman ruhani saya bersama pribadi Beliau. Hal ini menjadikan suatu hal yang sangat menyentuh kedalaman bathin saya. (Rincian detail kisah tersebut Insya Allah akan saya tuliskan nanti.) Karena bias penafsiran dari kata-kata dan tulisan mungkin saja bisa terjadi, sehingga saya tidak akan gegabah untuk begitu saja menuliskannya di sini. Tetapi dari beberapa kali pengalaman diri saya berinteraksi dengan Beliau, hingga akhirnya Beliau berkenan untuk mendoakan diri saya pribadi dari alam Beliau sekarang.
Beliau juga sempat memberikan pesan bahwa pada saatnya nanti bila saya telah selesai menjalankan “tugas” dalam hidup dan kehidupan di dunia ini, dan tiba saat untuk kembali ke alam kubur, Beliau berjanji untuk ikut menjemput saya! Subhanallah…
Tafakur kita kali ini adalah kalau diibaratkan seseorang yang terkena mutasi (diharuskan pindah tempat tinggal) ke sebuah negara antah berantah, dimana kita tidak mengetahui (misalnya hanya sedikit sekali informasinya yang kita ketahui) seperti apa kondisi komunitasnya, bahasa yang dipergunakan, tata cara hidup yang berlaku, dsb. Alangkah bingung dan sedihnya kita, dengan ketidaksiapan diri yang tiba-tiba mendapat “SK Mutasi’ tersebut. Tetapi, apa yang terjadi bila kita sudah diberitahu bahwa nanti di “tempat kedatangan pesawat”, ternyata kita akan dijemput oleh seseorang yang kebetulan mendapatkan jabatan tinggi setingkat menteri misalnya… tentu saja berita ini akan menenteramkan dan menyejukkan hati kita.
Semoga bermanfaat…
Belum ada komentar
Buat komentar untuk bertafakur...Belum ada yang mentafakuri tulisan ini... bagaimana dengan anda?
Comments RSS Feed TrackBack URL




![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://yasiyafa.org/wp-content/uploads/valid-rss.png)
