Feb
11

Sujud

“Subhana Robbiyal a’laa wabihamdihi”
Maha Suci Tuhan Yang Maha Tinggi, serta memujilah aku kepadaNya

Manusia memuji kepada Tuhan Yang Maha Tinggi -pada saat bersujud- yaitu saat anggota badan manusia paling atas (kepala, yang selama hidupnya dimuliakan, misalkan saja ada orang yang menyentuhnya sang pemilik kepala akan merasa bahwa kehormatan dia tidak dihargai. Kedudukan kepala manusia adalah tinggi, diatas anggota badan yang lain baik dari segi posisi hingga letak otak dan akal pikiran manusia yang berada di kepala) tersungkur mencium bumi kerendahan hati dan mengakui bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Tinggi.

Tafakur kita kali ini bahwa, pada saat manusia merasa tidak mempunyai apa-apa, merasa tidak punya kekuatan selain dari kehendakNya, berada di bumi kerendahan hati disitulah saat menemukan Tuhan Yang Maha Tinggi. Kebersyukuran manusia atas hakikat penghambaan kepada Tuhan ini diungkapkan dengan pengucapan pujian kepadaNya pada saat sujud.

Sujud sendiri tidaklah hanya berada didalam shalat saja. Di dalam keseharian laku kehidupan, manusia yang telah mencapai derajat kesempurnaan diri, selalu sujud kepadaNya baik didalam berdirinya, duduk, berbaring, bahkan pada saat tidurnya!.

Bagaimana bisa?

Inilah yang menjadi rahasia Tuhan, yang hanya melimpah kepada hambanya yang terpilih. Marilah kita bertafakur sejenak untuk mengupas kedalaman maknanya.

Demikian pula hakikat ini tercermin didalam pengejawantahan sosok manusia suci yang boleh dikatakan sebagai sosok “Tuhan yang dimanusiakan”. Kalau sosok sisi negatif, kejahatan, keangkaramurkaan yakni “manusia yang dipertuhankan” adalah Fir’aun beserta bala tentaranya, tentu saja ada sisi kebalikannya yang positif, kebaikan, kerendahhatian yang ada dalam diri “manusia Muhammad”.

Kalau diibaratkan sebuah korps kesatuan, maka Kanjeng Nabi Muhammad adalah pucuk pimpinan yang membawahi ratusan ribu anak buahnya. Kesekian banyak “anggota korps” inilah yang mendapat title sebagai sosok “manusia-Muhammad”. Keagungan, kemuliaan, dan segala atribut Nabi sebagai pengemban misi kerasulan sampai akhir jaman, didelegasikan melalui jajaran “anak-buah” Beliau hingga saat akhir jaman nantinya. Siapakah korps yang saya maksudkan? Antara lain dari jajaran Khalifah Rasul, Awliya’-Waliyullah. Hierarki pemerintahan bathin berada di tangan mereka. Dari susunan pucuk pimpinan pemerintahan tertinggi yang dipegang Khalifah Rasul, Al-Ghauts, Wali Qutub, Imam, Wali Abdal, dst. Inilah “birokrasi langitan”.

Kenapa tafakur ini saya bawa sampai wilayah ini? Tidak lain adalah untuk mengenalkan “hakikat sujud sebenarnya sujud” kepada kita semua. Ke-Maha Tinggi-an Allah bisa diejawantahkan hanya oleh orang-orang suci, yang senantiasa memuji Allah…! “Subhana Robbiyal A’laa wabihamdihi”.

Demikianlah, dari semenjak jaman Kanjeng Nabi Muhammad Saw, secara lahir-bathin Beliau selalu berada di bumi kerendahan hati baik dari setiap ucapan hingga laku hidupnya. Di dalam sosok hamba yang seperti ini –selalu tersungkur bersujud- telah meniadakan segala pengaruh duniawi karena telah meletakkan “kepala” untuk mencium bumi kerendahan seraya mengucap pujian kepada Allah karena mengetahui “hakikat Al-A’laa”, terdapat curahan Rahmat dan RidhaNya. Inilah sosok-sosok “Tuhan yang dimanusiakan”!.

Sebagai penutup tulisan kali ini, saya mengajak anda untuk mentafakuri keberadaan manusia-Muhammad jaman sekarang yang mendapat keberkahan, keagungan, kemuliaan sebagai penerus misi kerasulan Kanjeng Nabi Muhammad. Bagaimana bila beliau disamarkan oleh Tuhan dalam kesehariannya berada dalam pakaian duniawi yang bersahaja, yang terluput dari pandangan manusia modern jaman sekarang? Yang kebanyakan mementingkan/menyembah dunia? Bagaimanakah bila ternyata salah satu anggota “korps birokrasi” itu ternyata adalah seorang yang kita kenal, tetapi ternyata pandangan naif diri telah menipu kita? Subhanallah…

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”. (At-Taubah 112)

Belum ada komentar

Buat komentar untuk bertafakur...

Belum ada yang mentafakuri tulisan ini... bagaimana dengan anda?

Comments RSS Feed   TrackBack URL

Berikan komentar

top
© 2007 Deziner Folio. All Rights Reserved. XHTML Theme by: Dezinerfolio

Religion Top Blogs Jogja Top Sites Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Powered by FeedBurner [Valid RSS] Find broken links on your website for free with LinkTiger.com

eXTReMe Tracker