Perjumpaan dengan Tuhan #1
Katakanlah : Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa. ” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi 110).
Perjumpaan dengan Tuhan! Betapa manisnya kalimat ini. Betapa sakralnya momentum ini, tak bisa dibayangkan apalagi dengan sebuah ungkapan rangkaian kata. Inilah yang menjadi tujuan dari setiap manusia (yang memahami hakikat kehidupan di dunia, dimana ia diciptakan). Bahkan kenikmatan surga pun menjadi tidak ada apa-apanya dan tidak bisa diperbandingkan.
Bagi yang mengharap perjumpaan ini, menurut ayat diatas hendaklah mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. Nampaknya sederhana, tetapi apabila kita menyelam ke kedalaman samudera makna, alangkah beratnya. Amal saleh dan tidak mempersekutukanNya. Dua kata kunci inilah yang harus kita bedah dan pahami. Bagaimanakah kesalehan amal yang dilakukan bisa di terima sebagai amal yang saleh? Bagaimanakah laku hidup yang tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia Sang Pencipta?
Amal, bukanlah sesuatu yang asing di telinga kita. Tetapi apakah amal yang saleh telah kita kerjakan? Kenapa kita membanggakan amalan yang telah kita lakukan. Berasal dari siapakah kemampuan kita untuk melakukan amal-amal yang kita “komplain” sebagai amal kita? Bukankah Tuhan yang menciptakan “amal”, lantas “amal” tersebut dinisbatkan dan diatasnamakan kepada kita? Jadi kenapa kita masih saja menepuk dada, masih saja membanggakan amalan yang telah kita lakukan?
Saleh, seperti apa sih orang saleh itu? Apakah seseorang yang berilmu tinggi dengan setumpuk gelar kesarjanaannya, tentu saja bukan. Apakah seseorang yang mempunyai banyak pengikut sehingga terkenal dimana-mana? nampaknya juga bukan. Apakah seseorang yang berpakaian “ulama” dan pandai berorasi di depan publik? sepertinya banyak, tetapi kok tingkah lakunya seperti “itu”. Lantas bagaimana dengan diri yang awam ini, yang terhimpit kesesakan dan keruwetan hidup, bisakah mencapai laku saleh agar bisa mempunyai amal saleh? Kesalehan sesungguhnya tidak bisa diukur dengan parameter duniawi ini. Tolok ukur secara syariat, memang diperlukan untuk menjalankan Sunatullah dan Sunah Rasul. Tetapi bukankah Kanjeng Nabi sendiri dalam salah satu hadits nya mengatakan bahwa di akhir jaman nanti umat Islam akan seperti buih diantara gelombang samudera? Bukankah kita sekarang adalah umat akhir jaman? Sadarlah kawan! yang dimaksud dengan “umat” itu adalah kita!! Kesalehan seseorang adalah apabila ridha Tuhan telah menaunginya. Laku amal secara syariat sebenarnya mendidik manusia agar bertingkah laku seperti junjungan kita Nabi Muhammad Saw, sebagai seorang manusia paripurna yang mencapai derajat kesempurnaan. Ridha Tuhan yang melimpah kepada Beliau, tercermin dalam setiap ucapan dan gerak langkah keseharian Beliau.
Belum ada komentar
Buat komentar untuk bertafakur...Belum ada yang mentafakuri tulisan ini... bagaimana dengan anda?
Comments RSS Feed TrackBack URL




![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://yasiyafa.org/wp-content/uploads/valid-rss.png)
