Year-end story (part#2)
Siang itu, disela-sela rutinitas pekerjaan yang melelahkan, akhirnya kami berdua meneruskan pembicaraan kami yang terhenti pagi tadi. “Kesalahan terbesar kebanyakan umat Islam didalam mencari Lailatul Qadr, adalah bahwa mereka mencarinya di jagad alam semesta ini.” saya menambahkan, “Mereka tak henti-hentinya memperhatikan tanda-tanda alam seperti kondisi cuaca, apakah mendung atau cerah, apakah angin bertiup, dan banyak lagi tanda-tanda alam seperti yang disebutkan ciri-cirinya di dalam banyak periwayatan al-hadits. Tentu saja mereka tidak akan pernah mendapatkan apa yang dicarinya. Kejadian malam penuh kemuliaan itu, bukanlah terjadi di alam ini, tetapi terjadinya adalah di dalam alam diri kita. Pernahkah Sampeyan memperhatikan diri kita? Bukankah disini juga terdapat alam semesta?”.
Saya mengutip sebuah hadits, “Man arafa nafsahu laqad arafa Rabbahu, barangsiapa mengenal diri, maka ia akan mengenal Tuhannya. Tidakkah ini berarti bahwa kita diperintah untuk mengenal diri kita masing-masing sebenar-benarnya? Barulah kita akan bisa mengenal siapa Tuhan? Janganlah seperti kebanyakan orang yang kurang berpengetahuan, didalam pengenalannya dengan Tuhan. Merasa telah menemukan Dia dengan penafsiran diri yang tentu saja bersifat subjektif. Memang Tuhan berfirman bahwa Dia adalah seperti apa anggapan hamba-Nya. Seperti cerita 3 orang buta yang disuruh menceritakan bentuk gajah. Masing-masing akan mendeskripsikan sesuai dengan apa yang mereka sentuh. Bagi orang yang penglihatannya normal tentu akan mentertawakannya karena pendapat mereka akan sangat menggelikan”.
“Diantara tanda-tanda turunnya malam penuh kemuliaan itu adalah bahwa malam terasa sunyi, tiada suara yang menimbulkan kegaduhan, bahkan margasatwa-pun semua terdiam, angin tidak berhembus, langit cerah tak berbintang. Kemudian langit membelah karena Keagungan Tuhan, turunnya malam itu adalah dimalam-malam ganjil di bulan Ramadhan, dan masih banyak lagi…”
Sambil menikmati makan siang, kami semakin larut didalam bertukar rasa tentang kisah yang dialami Pak Ksmn. Seakan tak terasa, mulutku terus saja mengalunkan nada ucapan pujian atas keberkahan karunia-Nya yang melimpah kepada hamba-Nya.
“Malam terasa sunyi, ini berarti bahwa jiwa bathin Sampeyan dilimpahi rasa kosong, tiba-tiba saja telinga pendengaran Sampeyan terasa tertutup oleh sesuatu
“Malam cerah tak berbintang, turun di malam-malam ganjil. Apakah ini maknanya? Pernahkan Sampeyan menjumpai suatu malam yang terlihat cerah tanpa satupun bintang ada di langit? Ini adalah bahasa perlambang Pak!” saya menambahkan. “Sementara malam ganjil itu juga bukan berarti dalam konteks penanggalan manusia ini,” seraya tersenyum saya mengambil -entah batang rokok yang keberapa- sejak kami memulai pembicaraan ini. “Ganjil bermakna tidak ada sesuatupun yang menyamainya. Berarti bahwa apabila seseorang mampu bertindak ganjil, tidak mau mengikuti kecenderungan manusia pada umumnya, maka dia akan mendapatkan malam penuh kemuliaan ini. Kecenderungan umum manusia seperti apakah itu? Yakni kecenderungan kepada pemenuhan nafsu duniawi atas kenikmatan semu yang fana ini tentu saja. Saya bisa menyimpulkan bahwa dengan laku taubat yang telah sampeyan haturkan kepada-Nya dengan keinginan yang kuat untuk menjalankan laku taubat itu, tentu saja telah menjadikan sampeyan sebagai seorang yang ‘ganjil’ diantara manusia lain. Jadi malam yang ganjil adalah kondisi jiwa bathin seseorang yang dikaruniai hal seperti itu.”
Pak Ksmn tersenyum sambil berkata pendek, “Iya ya, betapa telah terbalik tatanan dunia ini, dimana orang ‘ganjil’ dianggap ‘gila’, padahal siapa yang ‘gila’ ya mas?” sambil tersenyum kecut, saya menimpali, “Itulah, bahwa semua orang itu tersesat, kecuali hanya orang-orang yang mendapat petunjuk saja yang tidak tersesat. Shirot al-mustaqim sesungguhnya juga telah kita lalui sekarang ini didunia.
“Makna malam tak berbintang, berarti bahwa kondisi jiwa bathin manusia sudah tidak dipengaruhi lagi oleh kerlap-kerlip godaan dunia. Ibaratnya, di angkasa hati, cerahnya langit hati sudah tidak dihiasi oleh bintang-bintang sebagai lambang keinginan duniawi yang cenderung menipu manusia.”
Demikianlah secercah kisah nyata di akhir tahun 2007, yang semoga Insya Allah akan mampu membangunkan kesadaran diri didalam penghambaan kita kepada-Nya. Wassalam.
(Alhamdulillah, saya mendapat kabar terbaru, bahwa seminggu yang lalu Pak Ksmn kembali memperoleh berkah dengan anugerah pengalaman sewaktu shalat tahajud hingga waktu shalat subuh. Insya Allah saya akan membagi kisah tersebut dengan anda semua.)
Belum ada komentar
Buat komentar untuk bertafakur...Belum ada yang mentafakuri tulisan ini... bagaimana dengan anda?
Comments RSS Feed TrackBack URL




![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://yasiyafa.org/wp-content/uploads/valid-rss.png)
