Hijab
Tuhan memberikan hijab yang sangat halus kepada setiap hamba-Nya. Seorang ulama terhijab dengan keluasan ilmunya, seorang zahid bahkan terhalang oleh amal ibadahnya, seorang hukaman juga terhijab oleh kehalusan hikmah yang dimilikinya. Sementara orang-orang arif – ma’rifat kepada Allah Swt - tidak ada penghalang karena menempatkan Cahaya Ilahi –Nurullah- di dalam hatinya. (Ungkapan seorang wanita sufi, Rabi’ah Adawiyah didalam memberikan keterangan tentang mahabbah kecintaannya menuju Allah Swt.)
Masya Allah… apalagi orang awam! Betapa banyak hijab yang menghalanginya untuk bertemu dengan Tuhannya. Sementara kebodohan mereka tidak juga menyadarkan mereka, bahkan semakin mereka terlena dengan dunia.
Hijab sesungguhnya terkait dengan hakikat kesucian dalam setiap hamba-Nya. Ruh suci sebagai hakikat manusia, yang sudah tidak terpengaruh oleh beberapa faktor berikut ini akan bisa menuju kepada Sang Maulana.
Beberapa faktor yang menjadi penghalang sesungguhnya adalah :
- Tubuh lahir
- Tubuh bathin
- Pakaian lahir
- Pakaian bathin
- 7 (tujuh) inderawi manusia
- Keluarga
- Harta Benda
Betapa banyak hijab yang ada, sehingga menyebabkan manusia terlupakan dan kesulitan untuk menemukan Tuhannya
4 Komentar
Buat komentar untuk bertafakur...Comments RSS Feed TrackBack URL





![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://yasiyafa.org/wp-content/uploads/valid-rss.png)

February 3rd, 2008 at 10:40 pm
Hidup adalah perjalanan manusia untuk membuka hijab antara dirinya dengan Tuhannya.
Episode-episode membuka tabir adalah episode-episode cinta, dimana keindahan terkuak dan kerinduan semakin menggelora.
Manusia yang sadar sebagai Ruh yang berasal dari-Nya, adalah manusia yang penuh kerinduan. Kembali ke hadlirat-Nya telah menjadi tujuan hidup sejatinya.
Salam
February 4th, 2008 at 9:50 pm
trims…
salam kenal dari saya. ijinkan saya sedikit bersajak :
“bagaikan meminum arak, kemabukan itu selalu terasa didalam gerak langkah diri dalam menggapai cinta dan kasih sayang-NYA. setiap habis pengaruh arak itu, tak henti2nya DIA memasok kepada diri agar selalu merindui-NYA…”
February 4th, 2008 at 10:39 pm
Agama (ibadah) bukanlah candu yang hanya kita butuhkan saat kita sakaw alias ada masalah duniawi, kantong kosong, dll. Tapi beribadah merupakan kebutuhan spiritual dalam hidup yang akan mengahntarkan kita kehadirat Ilahi Rabbi.. Agama bukan candu yang hanya kita butuhkan kalo lage pingin aja, tapi selamanya kita butuh itu..
Salam… Penjual candu:)
February 4th, 2008 at 11:03 pm
matur nuwun…
seperti ketelanjangan diri yang membutuhkan pakaian ya mas? agama mampu mengejawantahkannya didalam hubungan hamba dengan Tuhan-nya.
komentarnya selalu dinantikan. trims.