Year-end story (part #1)
“Waktu itu, aku shalat subuh di kamar kost sekitar jam 5 pagi” demikian Pak Ksmn menceritakan kisahnya kepadaku. “Semoga dengan terceritakan kisah ini, aku bisa mendapatkan takwil dari apa yang aku alami tadi pagi”. “Aku masih merasa takut, bahagia, dan semua perasaan yang tidak karuan untuk diungkapkan dengan kata-kata” dia menambahkan, sambil mengajakku untuk menjauh dari keramaian orang-orang yang pagi itu memang sibuk untuk mulai menjalankan tugasnya masing-masing.
Mulanya aku merasa bingung dengan apa yang hendak disampaikannya, sampai akhirnya setelah aku mendengar rangkaian kisah pengalaman pribadinya, aku berseru mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahuwata’ala, sambil kugenggam erat tangannya. Kuucapkan selamat, atas apa yang telah dialaminya. Anda penasaran dengan kisah tersebut?
“Sewaktu shalat subuh tadi, di tengah-tengah shalat aku merasa ada seseorang yang membawa payung besar dan dibentangkan diatasku”, lanjutnya. “Padahal semenjak sampeyan menyarankanku untuk shalat sambil memejamkan mata, demi mendapatkan kekhusu’an shalat, aku selalu memejamkan mata di dalam shalatku. Lantas bagaimana aku bisa melihat hal demikian itu?” masih dengan raut muka dan tangan yang bergetar Pak Ksmn menatapku meminta penjelasan. “Masih ada lagi mas, setelah kira-kira satu rakaat, payung tersebut ditancapkan disebelahku. Aku merasakan sangat jelas, karena dilingkungan rumah kost-ku itu, pada jam-jam segitu masih belum banyak yang terbangun”.
Aku menyalakan rokok dan menawarkan kepada Pak Ksmn, dia melanjutkan ceritanya, “Pada saat aku sampai pada bagian Tahiyyat , tiba-tiba aku melihat bulan purnama yang sangat indah, diatas kamarku. Sinarnya cemerlang menembus atap rumah sehingga terlihat jelas”.
“Padahal sampeyan tahu mas, mata lahir saya ini terpejam. Saya berada di dalam kamar. Bagaimana mungkin dan bagaimana bisa?” dengan sorot mata heran dia menambahkan cerita. “Tolong jelaskan makna dan takwil kejadian tadi mas?” demikian dia menutup kisahnya pagi itu.
Sambil membuang puntung rokok, aku menatap Pak Ksmn, “bersyukurlah pak, atas apa yang telah terjadi tadi pagi. Itulah Kemuliaan dan Kebesaran serta Keagungan Tuhan yang telah diperlihatkan kepada panjenengan. Selaku manusia yang telah mau bertaubat atas kesalahan dan dosa-dosanya. Juga telah menghadirkan niat untuk menjalankan laku-taubat secara istiqamah”. Aku menambahkan “Inilah malam Lailatul Qadr! “. Lho kenapa sampeyan berkata demikian? Bukankah Lailatul Qadr terjadi hanya di Bulan Suci Ramadhan?” sergahnya. Sambil tersenyum aku meneruskan kalimatku, “Janganlah kita mengartikan secara sempit akan luasnya makna yang ada di sebalik kemuliaan malam itu. Janganlah juga kita terbawa pemahaman akal yang memang serba terbatas didalam memaknai peristiwa-peristiwa ukhrowi atau ghaib. Makna malam, bukanlah berarti bermakna malam secara duniawi ini. Peristiwa malam sendiri adalah akibat peredaran matahari dan bumi. tetapi pernahkah panjenengan membayangkan apakah di alam akhirat ada juga siang dan malam? Bukankah “malam” yang dimaksud dalam Lailatul Qadr tersebut bukan malam dunia ini? Malam berarti kegelapan, tidak terlihat, ghaib. Demikian juga dengan diri kita disisi malam adalah sisi bathin. bukankah bathin tidak kelihatan alias ghaib. Lantas dengan kehalusan sisi bathin diri yang bisa melihat Kemuliaan, Kebesaran, dan Keagungan Tuhan, bisakah panjenengan menyimpulkannya?”
Hari menjelang siang, sehingga pembicaraan itu terputus. Akhirnya dengan enggan kami berpisah menuju ruangan kerja masing-masing, dengan janji bahwa obrolan ini akan dilanjutkan siang hari waktu rehat kerja.
(kisah ini berdasarkan pengalaman nyata, dengan penulisan materi yang disesuaikan)
4 Komentar
Buat komentar untuk bertafakur...Comments RSS Feed TrackBack URL




![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://yasiyafa.org/wp-content/uploads/valid-rss.png)

January 25th, 2008 at 9:57 am
What a wonderful moment! Just grow with your experience of an inner joy!
January 25th, 2008 at 11:34 pm
that’s right bro! this is not just a spiritualism experience as usually… there are many wisdom and Blessing from God. anyway big thanks to your appreciate. Wassalam!
February 3rd, 2008 at 10:47 pm
What a wonderful moment !
Eniwei, apa yang dirasakan dan disadari oleh Hati saat Sholat lebih penting dari apa yang dilihat.
February 4th, 2008 at 10:26 pm
yup, penglihatan bathin seperti itu adalah suatu karunia tersendiri. bagaimanapun kerasnya seseorang berusaha untuk mendapatkannya, tanpa ijin dan rahmat serta ridhaNYA, adalah suatu hal yang mustahil…
sementara “berfungsinya” mata-bathin jg suatu hal yang “ekstra” setelah berbagai hijab terbuka.
semoga menjadi tafakur kita didalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Amin